
UMN Raih Hibah Penelitian Dasar Kemendiktisaintek 2026 melalui Riset Inovasi Bambu Translusen Hemat Energi
17/06/2026 09:00
Tangerang, (25/05/26) - Tim peneliti Universitas Multimedia Nusantara (UMN) berhasil memperoleh pendanaan Hibah Penelitian Dasar Kemendiktisaintek Tahun Anggaran 2025 melalui skema Penelitian Dasar Fundamental. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Eng. Niki Prastomo, S.T., M.Sc. dan mengangkat tema pengembangan bambu translusen sebagai material bangunan hemat energi yang ramah lingkungan. Keberhasilan memperoleh hibah nasional ini menjadi bentuk pengakuan atas kualitas riset yang dikembangkan UMN dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan melalui inovasi berbasis sumber daya lokal.
Tim peneliti terdiri atas Dr. Eng. Niki Prastomo, S.T., M.Sc. dari Program Studi Teknik Fisika UMN sebagai ketua peneliti, bersama Dr. Lili Melani, S.T., M.Sc. dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB), serta Ar. Cipta Hadi, S.T., M.Ars., IAI dari Program Studi Arsitektur UMN.
Penelitian ini berfokus pada pengembangan material bambu yang mampu meneruskan sekaligus menyebarkan cahaya alami ke dalam ruangan secara lebih merata. Material ini berpotensi mengurangi kebutuhan penggunaan lampu pada siang hari serta mendukung terciptanya bangunan yang lebih hemat energi.
Latar belakang penelitian ini berangkat dari tingginya kontribusi sektor bangunan dan konstruksi terhadap emisi karbon global. Menurut Dr. Niki Prastomo, tantangan keberlanjutan bangunan tidak hanya muncul ketika bangunan telah digunakan, tetapi juga sejak proses pembangunan dan pemilihan materialnya.
“Bangunan itu kalau sudah jadi membutuhkan banyak energi, terutama ketika ingin dijadikan bangunan yang nyaman, seperti penggunaan AC dan lampu. Namun dari sisi proses pembuatannya juga ada energi yang digunakan. Jadi sejak tahap desain pun perlu ada inovasi untuk memastikan bangunan tersebut lebih ramah lingkungan,” ujar Dr. Niki.
Melalui pendekatan teknik material, tim peneliti mencoba mencari alternatif material yang mampu mendukung konsep green building, baik dari sisi proses produksi maupun performanya saat digunakan. Salah satu tantangan yang ingin dijawab adalah bagaimana menghadirkan material yang mampu memaksimalkan cahaya alami tanpa meningkatkan beban panas dalam bangunan.
Selama ini, material seperti kaca banyak digunakan untuk memasukkan cahaya ke dalam ruangan. Namun, proses produksinya membutuhkan energi besar dan memiliki jejak karbon yang cukup tinggi. Sementara itu, material berbasis plastik seperti polikarbonat yang umum digunakan pada elemen bangunan seperti skylight masih banyak menggunakan bahan berbasis minyak bumi.
Melalui penelitian ini, tim UMN mencoba menghadirkan alternatif berbasis sumber daya lokal dengan memanfaatkan bambu sebagai material utama. Bambu dipilih karena memiliki berbagai keunggulan, mulai dari pertumbuhan yang cepat, ketersediaan yang luas, hingga potensinya untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
“Bambu ini pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan kayu. Selain dari sisi fungsional, ada juga sisi sosialnya karena banyak petani bambu yang perlu dibantu untuk meningkatkan nilai dari bambu tersebut,” jelas Dr. Niki.
Menurutnya, meskipun bambu telah lama digunakan dalam berbagai konstruksi tradisional, pemanfaatannya masih memiliki ruang untuk dikembangkan agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya menggunakan bambu dalam bentuk konvensional, tetapi memberikan perlakuan khusus agar memiliki fungsi baru sebagai material bangunan modern.
Konsep pengembangan bambu translusen dilakukan dengan mengubah struktur alami bambu agar mampu meneruskan sekaligus menyebarkan cahaya secara lebih lembut ke dalam ruangan. Melalui proses pengolahan tertentu, struktur bambu dibuat memiliki pori-pori yang memungkinkan cahaya melewati material tanpa menghilangkan kekuatan dasarnya.
Dalam proses tersebut, tim peneliti melakukan optimalisasi perlakuan terhadap bambu dengan mengurangi sebagian kandungan lignin, yaitu komponen alami yang berperan dalam memberikan kekuatan pada bambu. Proses ini perlu dikontrol agar material memiliki kemampuan meneruskan cahaya, tetapi tetap mempertahankan karakter mekaniknya.
“Kami mencoba mengoptimalkan treatment untuk menghilangkan lignin sehingga pori-porinya lebih terbuka, tetapi tetap cukup kuat. Kalau terlalu banyak dihilangkan, materialnya akan menjadi rapuh,” jelas Dr. Niki.
Setelah melalui proses pengolahan, bambu kemudian dikombinasikan dengan resin berbasis bahan terbarukan atau bioresin sebagai pengikat material. Kombinasi bambu dan bioresin ini dikembangkan untuk menghasilkan material bangunan yang tidak hanya memiliki fungsi teknis, tetapi juga mendukung prinsip keberlanjutan karena menggunakan bahan berbasis biomaterial.
Material bambu translusen yang dihasilkan nantinya berpotensi diterapkan pada elemen bangunan seperti skylight atau panel pencahayaan alami. Material ini diharapkan mampu memasukkan cahaya alami secara optimal, mengurangi efek silau, serta membantu mengurangi masuknya panas ke dalam bangunan sehingga mendukung efisiensi energi.
Pada tahun pertama, penelitian akan difokuskan pada pemilihan jenis bambu yang paling sesuai, pengembangan proses pengolahan material, serta pembuktian konsep bahwa bambu dapat diubah menjadi material translusen yang tetap memiliki kekuatan memadai. Selanjutnya, pada tahun kedua, penelitian akan diarahkan pada penyempurnaan proses dan pengembangan panel bambu translusen yang lebih stabil untuk diuji dalam skala yang lebih besar. Menurut Dr. Niki, tujuan akhir penelitian ini adalah menghasilkan metode pengembangan material yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas dalam pembangunan berkelanjutan.
“Harapannya metode yang nanti digunakan bisa menjadi metode yang dapat dimanfaatkan banyak pihak, terutama untuk meningkatkan nilai bambu. Dengan adanya proses tambahan, masyarakat bisa memiliki pilihan untuk menjual bambu dengan nilai yang lebih baik,” tutupnya.
Melalui penelitian ini, tim peneliti berharap dapat membuka peluang baru dalam pengembangan material bangunan berkelanjutan berbasis sumber daya lokal Indonesia. Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan produk inovatif yang mendukung bangunan hemat energi sekaligus meningkatkan nilai tambah bambu sebagai komoditas unggulan nasional.
