
Proyek ‘Crossroads’ Dosen UMN Berhasil Raih Hibah Internasional Australia-Indonesia Institute
18/05/2026 09:00
Tangerang, 4 Mei 2026 – Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mencatatkan capaian internasional di bidang riset dan kolaborasi budaya melalui keterlibatan salah satu dosennya dalam proyek yang memperoleh pendanaan Australia–Indonesia Institute Grant Program 2025–26. Program hibah internasional ini didanai oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia melalui Australia–Indonesia Institute.
Hibah tersebut diraih melalui proyek yang bertajuk “Crossroads: Developing Partnerships and Cultural Understanding through Filmmaking”, sebuah inisiatif kolaboratif yang mempertemukan akademisi dan filmmaker dari Indonesia dan Australia untuk mengembangkan pemahaman lintas budaya melalui medium perfilman.
Program ini melibatkan kolaborasi antara University of Southern Queensland sebagai lead institution, Griffith University, dan Universitas Multimedia Nusantara sebagai mitra institusi dari Indonesia. Dari pihak UMN, Bernadus Yoseph Setyo Prabowo terlibat sebagai anggota tim dalam proyek internasional tersebut sekaligus mewakili kontribusi UMN dalam kolaborasi lintas negara di bidang perfilman dan studi budaya.
Menurut Bernadus Yoseph Setyo Prabowo, proyek ini berawal dari inisiatif rekan akademiknya, Dr. Catherine Putnam dari University of Southern Queensland, yang mengajaknya untuk terlibat dalam pengajuan proposal hibah berbasis kolaborasi budaya. Sebelumnya, tim Australia telah memiliki pengalaman kerja sama serupa dengan Korea Selatan dan kemudian ingin memperluas kolaborasi ke Indonesia.
“Berangkat dari diskusi tersebut, kami melihat adanya ironi bahwa Indonesia dan Australia merupakan negara bertetangga, tetapi masyarakat kedua negara belum banyak mengenal budaya maupun perfilman satu sama lain. Dari keresahan itu muncul gagasan untuk membangun pertukaran filmmaker dan kolaborasi produksi film sebagai ruang pertemuan budaya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa proyek ini akan mempertemukan filmmaker dari kedua negara untuk bekerja bersama dalam produksi film pendek lintas budaya. Para peserta nantinya akan menjalani pelatihan daring, mempelajari budaya dan industri perfilman negara tujuan, lalu bekerja sama dengan kru lokal dalam proses produksi.
“Para filmmaker tidak hanya datang untuk mempelajari budaya, tetapi juga melakukan co-production bersama sineas lokal. Kami ingin melihat bagaimana proses kolaborasi itu berlangsung, termasuk tantangan maupun kesamaan yang muncul ketika dua budaya bekerja bersama dalam satu produksi film,” jelasnya.
Media film pendek dipilih karena dinilai efektif untuk membangun pemahaman lintas budaya sekaligus realistis dari sisi produksi dan pendanaan. Tema horor juga dipilih karena dianggap memiliki kedekatan dengan audiens di Indonesia maupun Australia.
“Film pendek dipilih karena proses produksinya lebih ringkas sehingga memungkinkan eksplorasi kolaborasi lintas budaya secara lebih fleksibel. Sementara genre horor dipilih karena memiliki kedekatan dengan audiens kedua negara, meskipun masing-masing memiliki gaya penceritaan dan pendekatan budaya yang berbeda,” kata Bernadus.
Lebih lanjut, ia menilai perfilman memiliki peran penting dalam membangun pemahaman budaya antarnegara. Menurutnya, film saat ini menjadi salah satu medium utama masyarakat untuk mengenal kehidupan sosial, budaya, hingga cara pandang negara lain.
“Kita bisa mengenal budaya Korea atau Amerika melalui film dan serial yang mereka produksi. Namun ironinya, sebagai negara bertetangga, Indonesia dan Australia justru belum banyak saling mengenal melalui film masing-masing. Padahal film dapat menjadi jendela untuk memahami kehidupan masyarakat, nilai budaya, hingga keberagaman yang ada di suatu negara,” ungkapnya.
Melalui proyek ini, Bernadus berharap kolaborasi antara institusi pendidikan, peneliti, dan pelaku industri perfilman di kedua negara dapat terus berkembang di masa mendatang. Ia juga berharap penelitian ini dapat menjadi pijakan bagi kerja sama produksi film internasional yang lebih luas.
“Harapannya, proyek ini dapat membuka ruang diskusi mengenai pola kolaborasi yang ideal antara Indonesia dan Australia, baik dalam bidang akademik maupun industri film. Kami ingin melihat bagaimana kedua negara dapat saling belajar, memahami perbedaan budaya, serta menemukan titik temu untuk membangun kerja sama perfilman yang berkelanjutan,” tuturnya.
