lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Multimedia Nusantara
  • Beranda
  • Penelitian
    • Ringkasan
    • Peneliti Kami
    • Info Hibah Penelitian
    • Penelitian per Area Studi
  • PKM
    • Ringkasan
    • Peta Jalan
    • MBKM and KKN
    • Info PKM
  • Inovasi
    • Ringkasan
    • Katalog Inovasi
    • Program Inovasi
    • Proyek Inovasi
  • Tentang Kami
  • EN

lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Multimedia Nusantara
  • Beranda
  • Penelitian
    • Ringkasan
    • Peneliti Kami
    • Info Hibah Penelitian
    • Penelitian per Area Studi
  • PKM
    • Ringkasan
    • Peta Jalan
    • MBKM and KKN
    • Info PKM
  • Inovasi
    • Ringkasan
    • Katalog Inovasi
    • Program Inovasi
    • Proyek Inovasi
  • Tentang Kami

Penelitian Internasional UMN Soroti Tantangan AI bagi Pekerja Kreatif dan Industri Media Asia Tenggara

  • Home
  • news

Penelitian Internasional UMN Soroti Tantangan AI bagi Pekerja Kreatif dan Industri Media Asia Tenggara

06/07/2026 09:00

Tangerang, (06/07/26) - Tim peneliti Universitas Multimedia Nusantara (UMN) terlibat dalam proyek penelitian internasional yang memperoleh hibah dari Carsey-Wolf Center, University of California-Santa Barbara (UCSB), untuk periode 2025–2026. Hibah tersebut mendukung penelitian bertajuk Precarious Futures: Media Labor, Creative Work, and AI in Southeast Asia yang mengkaji bagaimana perkembangan kecerdasan buatan (AI) memengaruhi dunia kerja industri media di Asia Tenggara. 

Penelitian ini dipimpin oleh Pei Sze Chow dari Wee Kim Wee School of Communication and Information, Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Dalam proyek tersebut, Yearry Panji Setianto, dosen Program Studi Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara (UMN), menjadi anggota tim peneliti yang mewakili Indonesia. Kolaborasi ini menjadi salah satu bentuk kontribusi UMN dalam memperkuat riset tentang industri media dan dampak perkembangan AI di tingkat internasional. 

Menurut Yearry, gagasan penelitian ini berawal dari sejumlah riset yang sebelumnya ia lakukan mengenai dampak AI terhadap pekerja media di Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut, ia menemukan bahwa keresahan mengenai perubahan dunia kerja akibat AI juga dirasakan oleh para peneliti di Singapura. 

"Kami melihat ada irisan kepentingan penelitian antara Indonesia dan Singapura. Setelah berdiskusi dalam sebuah workshop di NTU, kami merasa penting untuk memotret fenomena yang sama dari perspektif dua negara yang berbeda. Dari situlah kolaborasi ini dimulai," jelas Yearry. 

Proyek ini mempertemukan perspektif Indonesia dan Singapura untuk memahami bagaimana teknologi AI mengubah pola kerja, keterampilan, serta kondisi tenaga kerja di sektor media dan industri kreatif. Penelitian tersebut menempatkan kedua negara sebagai studi kasus penting untuk melihat dinamika pekerja media di kawasan Global South, dengan karakter industri yang berbeda. 

Yearry menjelaskan bahwa pemilihan Indonesia dan Singapura bukan untuk membandingkan kedua negara secara langsung, melainkan untuk memahami hubungan yang saling melengkapi dalam ekosistem industri kreatif Asia Tenggara. 

"Singapura memiliki modal dan akses yang kuat terhadap industri global, sedangkan Indonesia memiliki talenta kreatif yang sangat besar. Banyak pekerja kreatif Indonesia yang justru bekerja untuk perusahaan berbasis di Singapura. Hubungan inilah yang ingin kami pahami lebih jauh," ujarnya. 

Riset ini berangkat dari meningkatnya penggunaan teknologi AI dalam berbagai bidang kreatif dan media. Tim peneliti melihat bahwa AI tidak hanya menghadirkan peluang efisiensi dan inovasi, tetapi juga membawa tantangan terhadap keberlangsungan pekerjaan, nilai keterampilan, serta posisi tawar pekerja media. 

Menurut Yearry, perubahan yang dibawa AI bahkan lebih besar dibandingkan yang selama ini dipersepsikan masyarakat. 

"Dari hasil riset kami, justru kehadiran AI sangat berdampak terhadap cara kerja pekerja media. Teknologi ini mengubah proses produksi dan dalam banyak kasus telah mengubah sekitar 40 hingga 50 persen cara mereka bekerja," katanya. 

Dalam konteks Indonesia, penelitian menyoroti karakter industri media dan kreatif yang banyak ditandai oleh pola kerja informal, pekerja lepas, serta keterbatasan perlindungan dan kekuatan kolektif pekerja. Perkembangan AI berpotensi memengaruhi sejumlah pekerjaan seperti penerjemahan, penyuntingan, desain grafis, produksi video, hingga jurnalisme. 

Penelitian ini juga menyoroti bahwa dampak AI tidak dirasakan secara merata oleh seluruh pekerja kreatif. 

"Pekerja yang sudah memiliki reputasi besar kemungkinan akan lebih mudah bertahan. Sebaliknya, pekerja pemula atau entry level justru berpotensi menjadi kelompok yang paling terdampak. Kami ingin memahami bagaimana mereka bisa tetap relevan di tengah perubahan ini," tutur Yearry. 

Melalui pendekatan komparatif Indonesia–Singapura, penelitian ini akan mengkaji bagaimana pekerja media merespons perubahan akibat otomatisasi, termasuk bagaimana mereka memahami perubahan keterampilan, potensi penurunan nilai pekerjaan kreatif, serta strategi adaptasi terhadap penggunaan AI. 

Bagi UMN, keterlibatan Yearry Panji Setianto dalam proyek ini memperkuat kontribusi universitas dalam pengembangan kajian media dan teknologi di tingkat internasional. Penelitian ini juga sejalan dengan upaya UMN untuk menghasilkan riset yang relevan dengan perkembangan industri komunikasi dan media digital. 

Yearry berharap penelitian ini dapat memperluas pemahaman publik mengenai dampak AI terhadap pekerja media, sekaligus menjadi dasar bagi lahirnya kebijakan yang lebih berpihak kepada pekerja kreatif. 

"Kami ingin memperluas pembicaraan bahwa dampak AI tidak sesederhana ancaman atau peluang. Ada persoalan produktivitas, ekonomi, hingga perlindungan tenaga kerja yang perlu dibahas secara lebih serius. Harapan jangka panjang kami adalah hadirnya regulasi yang mampu memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak mengorbankan manusia sebagai pekerja," ungkapnya. 

Di tengah pesatnya perkembangan AI, penelitian ini juga menunjukkan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam beradaptasi dengan perubahan cara kerja di industri media dan kreatif. Menurut Yearry, terdapat perbedaan mendasar antara creativity dan craftsmanship. Craftsmanship merujuk pada keterampilan teknis yang dapat terus dipelajari dan berkembang seiring kemajuan teknologi, sedangkan creativity merupakan pola pikir yang memungkinkan seseorang menghasilkan gagasan, melihat peluang, dan menciptakan nilai baru. Karena itu, kreativitas menjadi bekal yang semakin penting agar pekerja tetap relevan di tengah transformasi industri. 

"Kalau ingin tetap relevan, orang harus terus belajar mengikuti perkembangan teknologi dan tools baru. Tapi yang paling penting adalah memiliki creativity sebagai sebuah mindset. Craftsmanship bisa dipelajari, tetapi kreativitas itulah yang akan membuat seseorang mampu bertahan menghadapi perubahan," ujar Yearry. 

Keterlibatan UMN dalam hibah internasional UCSB 2025–2026 menjadi bagian dari penguatan jejaring riset global sekaligus kontribusi akademik terhadap diskusi mengenai masa depan industri media di tengah perkembangan pesat teknologi AI 

Category:
Internal
logo-universitas-multimedia-nasional
Get Contact
  • Gedung C (New Media Tower) Lt. 2
    Universitas Multimedia Nusantara
    Jl. Scientia Boulevard, Gading Serpong, Kel. Curug Sangereng, Kec. Kelapa Dua, Kab. Tangerang,
    Prop. Banten 15810, Indonesia

Links
  • UMN
  • Knowledge Center
  • Ejournal
  • BPMI

Copyright © 2026
PenelitiProyek PenelitianProyek Pengabdian MasyarakatKatalog InovasiAcaraBerita